6 Perubahan Alam Indonesia yang Mengubah Dunia dalam 20 Tahun Terakhir
Dalam dua puluh tahun terakhir, alam Indonesia mengalami perubahan besar yang berlangsung secara perlahan namun pasti, mengubah wajah Nusantara. Perubahan ini tidak muncul mendadak, tetapi terbentuk dari aktivitas manusia, tekanan ekonomi, serta krisis iklim global. Akibatnya kini terasa di sekitar kita, memengaruhi masalah pangan, kesehatan, hingga rasa aman.
Lalu, apa saja perubahan yang sebenarnya sedang terjadi? Mari kita lihat satu per satu perubahan tersebut dalam poin-poin berikut ini!
1. Pengurangan hutan tropis yang besar-besaran
Sejak awal tahun 2000, luas hutan di Indonesia terus menyusut secara signifikan. Menurut data dari Global Forest Watch, antara tahun 2001 hingga 2023, Indonesia telah kehilangan sekitar 30,8 juta hektare lahan yang tertutup pohon, atau hampir 20% dari totalnya, akibat berbagai tekanan seperti pembukaan lahan, pengembangan perkebunan kelapa sawit, dan pembangunan infrastruktur.
Kehilangan hutan primer ini bukanlah angka yang tetap—ia secara langsung menyebabkan pelepasan karbon ke atmosfer, pengurangan tempat tinggal satwa liar, serta meningkatnya ancaman banjir dan longsor di beberapa wilayah. Meskipun pemerintah dan berbagai larangan telah dijalankan, angka deforestasi tetap menjadi tantangan besar yang memerlukan solusi serius.
2. Kebakaran hutan dan lahan yang semakin sering terjadi
Dalam sepuluh tahun terakhir, intensitas dan tingkat keparahan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) mengalami peningkatan yang cukup besar. Data internasional menunjukkan tren kebakaran yang semakin meningkat seiring dengan perubahan iklim, sedangkan di Indonesia, kenaikan sering kali terjadi di daerah gambut yang kering dan rentan terbakar.
Laporan CIFOR dan WRI Indonesia menyoroti peran musim kemarau yang semakin panjang dan intensif dalam mempercepat penyebaran api. Penggunaan metode pembakaran untuk membuka lahan semakin memperburuk situasi di berbagai daerah. Pada tahun 2025, misalnya, ratusan titik api di Riau kembali mengakibatkan kabut asap yang melintasi batas negara hingga terlihat di Malaysia. Kejadian ini bukan hanya menyebabkan gangguan kesehatan, tetapi juga menjadi indikasi dari krisis iklim dan kerusakan ekosistem yang terus berulang jika upaya mitigasi tidak segera diperkuat.
3. Pemanasan laut dan es yang terus berkurang secara perlahan
Salah satu bukti perubahan iklim yang jelas terlihat adalah di lautan Indonesia. Berdasarkan laporan internasional, kawasan Samudra Pasifik barat, termasuk wilayah Indonesia, mengalami gelombang panas laut yang tidak biasa, dengan suhu permukaan laut yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahun 1991–2020.
Keadaan ini memicu terjadinya pemutihan terumbu karang di berbagai daerah, seperti di Raja Ampat dan Laut Jawa. Ekosistem laut yang rentan mengalami ketidakseimbangan. Laporan terbaru juga menyebutkan bahwa gletser tropis terakhir di Papua Barat telah menyusut sebesar 50% dalam satu tahun, dan dapat hilang sepenuhnya dalam waktu dekat jika tren ini terus berlanjut.
4. Iklim yang semakin sulit diprediksi
Pola musim hujan dan kemarau di Indonesia kini tidak lagi berjalan seperti dulu. Banyak daerah mengalami curah hujan tinggi yang tiba-tiba, sementara wilayah lain justru menghadapi kekeringan yang panjang dengan intensitas yang luar biasa. Laporan BMKG, liputan media internasional, serta pengamatan langsung di lapangan menunjukkan bahwa musim tanam semakin sulit untuk diprediksi. Banjir sering terjadi di luar musim hujan puncak yang sebelumnya dianggap aman.
Anomali El Niño dan La Niña yang semakin intens berkontribusi pada meningkatnya ketidakstabilan iklim. Perubahan iklim global memengaruhi alur atmosfer regional, sehingga pola lama sulit digunakan sebagai pedoman. Dampaknya terasa di berbagai bidang, mulai dari produksi pertanian, ketersediaan air bersih, hingga ketahanan infrastruktur. Kondisi ini menunjukkan realitas iklim baru yang harus dihadapi oleh Indonesia.
5. Penurunan keragaman hayati dan habitat hewan
Indonesia terkenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang besar, yaitu tempat tinggal bagi berbagai spesies yang unik. Sayangnya, ancaman dari perubahan iklim, hilangnya habitat, serta penebangan hutan terus mengurangi ruang hidup satwa liar. DilansirUNEP GRID–GenevaPada tahun 2019, terdapat 259 spesies di Indonesia yang termasuk dalam kategori sangat rentan punah dalam Daftar Merah IUCN. Angka ini meliputi 135 spesies tumbuhan dan 124 spesies hewan, dengan dominasi spesies darat dibandingkan spesies laut.
Beberapa spesies darat, seperti burung endemik di Sulawesi dan hewan mamalia di Kalimantan, diperkirakan kehilangan habitat utamanya akibat perubahan iklim. Penurunan keragaman hayati ini bukan hanya data yang tercatat, tetapi juga peringatan penting bagi ekosistem yang menyediakan makanan, pekerjaan, serta budaya masyarakat Indonesia.
6. Pantai terkikis dan permukaan air laut meningkat
Peningkatan permukaan laut menjadi tantangan nyata bagi daerah pesisir Indonesia yang luas dan padat penduduk. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa kenaikan muka laut berdasarkan data satelit mengalami tren peningkatan sebesar 4,3±0,4 mm per tahun. Angka ini cukup signifikan untuk mempercepat erosi dan menyebabkan penurunan wilayah pesisir rendah, khususnya di pantai utara Jawa.
Laporan nasional mengenai perubahan iklim memproyeksikan kenaikan permukaan laut sebesar 25–50 cm pada pertengahan abad ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya diperkirakan semakin rentan terhadap banjir pasang dan genangan air yang sering terjadi. Masuknya air laut ke area pertanian serta sumber air tawar juga berdampak pada penurunan kualitas kehidupan masyarakat di pesisir. Tanpa adanya adaptasi dan mitigasi yang kuat, dampaknya akan semakin meluas.
Perubahan alam di Indonesia dalam dua puluh tahun terakhir menunjukkan pola yang jelas dan saling berkaitan. Hutan berkurang, laut menghangat, iklim berubah, serta keanekaragaman hayati menghadapi tekanan dalam satu rangkaian besar masalah lingkungan. Semua hal ini tercatat dalam data ilmiah, bukan hanya pendapat atau cerita musiman.
Di sisi lain, fakta-fakta tersebut juga memberikan kesempatan untuk bertindak lebih cepat dan terarah. Kebijakan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat menjadi kunci utama. Nasib alam Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil saat ini. Melindunginya bukanlah pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bersama.
Bagaimana Perubahan Iklim Menyebabkan Curah Hujan yang Sangat Tinggi? Hubungan Antara Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim, Apa Saja Akibatnya?Sumber Referensi :
BMKG. 2024. Laporan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia 2024. Departemen Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jakarta. Diakses pada 31 Desember.
Retno Gumilang, dkk. 2010. Indonesia Second National Communication dalam Kerangka Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Kementerian Lingkungan Hidup, Republik Indonesia. Diakses pada 31 Desember.
Score Kepatuhan Iklim. 2024. Hutan Indonesia: Pusat keanekaragaman hayati dan karbon yang penting. Diakses pada 31 Desember.





