Apakah Banjir Bisa Diperkirakan Secara Ilmiah?
Banjir merupakan bencana alam yang menimbulkan kerusakan besar dan sering kali membuat masyarakat kewalahan. Banyak orang memandang banjir sebagai peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda, serta sulit diprediksi. Air meluap, rumah terendam, aktivitas terhenti, semuanya terjadi seolah-olah tanpa peringatan.
Namun, apakah banjir benar-benar tidak bisa diprediksi? Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan data, para pakar kini mampu memperkirakan banjir dengan tingkat keakuratan yang semakin meningkat. Ahli hidrologi dan meteorologi berupaya mengubah peristiwa yang dahulu dianggap acak menjadi risiko yang dapat dikendalikan. Di sini, kita akan membahas bagaimana proses prediksi banjir dilakukan, batasan-batasannya, serta mengapa banjir masih terjadi meskipun ilmu pengetahuan terus berkembang.
1. Apa yang dimaksud dengan peringatan banjir?
Prediksi banjir berbeda dari prakiraan cuaca harian atau sekadar pemberitahuan dini. Prakiraan cuaca mengarah pada perubahan atmosfer dalam waktu singkat, misalnya kemungkinan hujan esok hari. Di sisi lain, pemberitahuan dini menyampaikan ancaman yang sudah sangat dekat. Prediksi banjir lebih lanjut dengan memodelkan bagaimana air menumpuk, mengalir, dan meluap, dengan mempertimbangkan kondisi sungai, tanah, serta bentuk wilayah.
Prediksi ini beroperasi dalam tiga tingkatan waktu. Jangka pendek, yang mencakup hitungan jam hingga hari, biasanya digunakan untuk mengantisipasi banjir bandang. Jangka menengah, dalam hitungan minggu, berguna untuk memantau kenaikan debit air musiman. Jangka panjang, hingga beberapa bulan, digunakan untuk memperkirakan pola curah hujan, seperti musim monsun. Meskipun canggih, prediksi banjir tidak pernah bersifat mutlak. Risiko umumnya disampaikan dalam bentuk probabilitas karena alam bersifat dinamis dan data tidak selalu sempurna.
2. Unsur alami dalam peramalan banjir
Ahli biasanya memulai dengan faktor-faktor alami. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik dari segi kekuatannya, lamanya, maupun pola turunnya. Hujan yang sangat deras dan terus-menerus dapat segera melebihi kemampuan tanah dan sungai menyerap air.
Kondisi tanah juga memiliki peran yang sangat penting. Tanah yang sudah jenuh air hampir tidak mampu menyerap air hujan tambahan, sehingga mengakibatkan meningkatnya limpasan permukaan. Topografi menentukan arah aliran air: lereng curam mempercepat aliran air menuju dataran rendah, sedangkan daerah datar cenderung menyebabkan genangan yang bertahan lebih lama. Sungai juga berpengaruh besar, dengan debit, kapasitas tampung, dan endapan lumpur yang memengaruhi risiko banjir. Sungai yang dangkal akibat endapan lumpur lebih mudah menyebabkan kejadian banjir.
3. Fungsi teknologi dan informasi
Teknologi memperkuat pemahaman terhadap faktor-faktor alam tersebut. Radar cuaca mengamati hujan secarareal-time, sementara satelit seperti Global Precipitation Measurement(GPM) yang dimiliki NASA mengamati sistem awan di seluruh bumi. Di daratan, Automatic Weather Station(AWS) merekam curah hujan, sertaAutomatic Water Level Recorder(AWLR) mengukur ketinggian permukaan air sungai.
Semua data ini diproses dalam model hidrologi komputer untuk memodelkan aliran air. Perkembangannya semakin pesat dengan munculnyabig data dan kecerdasan buatan. Machine learningmampu mengidentifikasi pola dari data banjir sebelumnya dan meningkatkan ketelitian prediksi. Beberapa sistem bahkan mampu meningkatkan akurasi prediksi hingga 20–30 persen.
4. Sistem peringatan dini banjir
Prediksi banjir berkaitan erat dengan sistem peringatan dini. Prosesnya membentuk rangkaian: sensor mengumpulkan informasi, model melakukan analisis, kemudian peringatan disampaikan melalui aplikasi, pesan singkat, atau sirene. Meskipun efektif dalam memfasilitasi evakuasi yang cepat, sistem ini juga memiliki kelemahan. Peringatan palsu bisa mengurangi kepercayaan masyarakat, dan masalah teknologi di wilayah terpencil sering kali menghambat penyebaran pemberitahuan.
5. Mengapa kejadian banjir masih terjadi
Prediksi yang akurat tidak selalu berarti banjir dapat dihindari. Kegiatan manusia sering kali memperparah ancaman tersebut. Pertumbuhan perkotaan yang pesat mengurangi area penyerapan air, sistem drainase yang tidak memadai memperburuk genangan air, serta penurunan permukaan tanah meningkatkan kerentanan terhadap banjir setiap tahunnya.
Selain itu, keterbatasan data di daerah terpencil serta kekurangan dalam model memperbesar ketidakpastian. Masalah komunikasi juga sangat penting: peringatan bisa datang terlambat atau tidak dihiraukan. Mengetahui bahwa banjir akan terjadi tidak sama dengan siap menghadapinya. Penundaan evakuasi dan sikap meremehkan sering kali membuat prediksi berubah menjadi bencana yang nyata.
Banjir memang dapat diprediksi secara ilmiah, namun tidak pernah sepenuhnya akurat. Ilmu pengetahuan mengubah ancaman menjadi data yang bisa diambil tindakan sehingga nyawa dan harta benda bisa dilindungi. Meskipun demikian, prediksi sebaiknya dilihat sebagai alat pencegahan, bukan ramalan pasti. Ketika digabungkan dengan infrastruktur yang kuat dan kesadaran masyarakat, sains menjadi senjata efektif dalam menghadapi banjir.
Referensi
Mahdi, M. S., Abbas, I. K., Muhammed, B. M., & Abbas, H. A. (2024). Meningkatkan prediksi banjir dengan menggabungkan Teknik Tradisional dan Pembelajaran Mendalam.Journal La Multiapp, 5(6), 890–897. https://doi.org/10.37899/journallamultiapp.v5i6.1520
Institut Teknologi Massachusetts. Diakses pada Desember 2025. Alat Kecerdasan Buatan Baru Menghasilkan Gambar Satelit Realistis tentang Banjir Masa Depan
NASA. Diakses pada Desember 2025. Memprediksi Banjir
Laboratorium Cuaca Ekstrem Nasional NOAA. Diakses pada Desember 2025. Cuaca Ekstrem 101 - Banjir
Bagaimana Serangga Memprediksi Perubahan Cuaca? 5 Fakta Kota Bergen, Perhiasan Fjord Norwegia yang Dikenal dengan Iklim Paling Berubah-ubah 5 Bulan di Sistem Tata Surya dengan Peristiwa Cuaca Paling Ekstrem