Strategi Indosat Mencapai Kecepatan 60 Mbps Broadband Mobile

tuserparabola, JAKARTA— Indosat Ooredoo Hutchison (Indosatatau IOH) menilai pencapaian target peningkatan kecepatan broadband mobile nasional sebesar 60 Mbps pada tahun ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan pendukung, khususnya ketersediaan spektrum yang cukup serta kebijakan harga spektrum yang murah dan dapat dipertahankan.
Kepala Hukum dan Regulasi Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, menyatakan bahwa aspek tersebut berlaku baik untuk spektrum yang saat ini digunakan maupun spektrum baru yang akan diperkenalkan di masa depan.
"Juga dilengkapi dengan kemudahan izin dan kebijakan lain yang mendukung kelangsungan investasi jaringan serta layanan telekomunikasi," ujar Reski kepadaBisnis, Minggu (11/1/2026).
Dari segi kesiapan infrastruktur, Reski mengatakan bahwa Indosat terus memperkuat kemampuan jaringan dengan memperluas stasiun transceiver dasar (BTS) 4G dan 5G secara bertahap di berbagai daerah.
Secara umum, Indosat mendukung arah kebijakan pemerintah yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) 2025–2029, termasuk peningkatan target kecepatan broadband nasional.
Indosat menganggap kebijakan tersebut sebagai tindakan yang positif dalam mendorong kesetaraan akses digital serta memastikan kualitas koneksi yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.
Berdasarkan pendapat Reski, peningkatan kecepatan dan kualitas jaringan memainkan peran penting dalam mendukung transformasi digital nasional, termasuk pemanfaatan teknologi berbasis data dan kecerdasan buatan yang memerlukan koneksi yang stabil, kapasitas besar, serta latensi rendah.
"Oleh karena itu, fokus pada kestabilan layanan dan kesetaraan kualitas akses sama pentingnya dengan pencapaian target kecepatan nasional," katanya.
Selanjutnya, Reski menekankan bahwa pencapaian target broadband nasional adalah agenda bersama yang membutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah dan sektor industri.
"Dengan kerangka regulasi yang seimbang antara kepentingan masyarakat dan kelangsungan sektor industri, sehingga pemerataan kualitas layanan dapat tercapai secara berkelanjutan," katanya.
Selanjutnya, target peningkatan kualitas koneksi internet tersebut terdapat dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029. Pemerintah menetapkan kecepatan rata-rata layanan broadband seluler mencapai 60 Mbps pada tahun 2026, naik dari 50 Mbps di tahun 2025. Target ini kemudian ditingkatkan menjadi 70 Mbps pada 2027, 80 Mbps pada 2028, dan mencapai 100 Mbps pada 2029.
Selain kecepatan, Komdigi juga menetapkan target perluasan cakupan layanan broadband mobile minimal 4G/LTE mencapai 97,50% dari seluruh area permukiman pada 2026, naik dibandingkan target tahun 2025 sebesar 97,30% dan pencapaian tahun 2024 sebesar 97,16%.
Secara bertahap, cakupan tersebut diharapkan mencapai 97,75% pada tahun 2027, naik menjadi 97,90% pada 2028, dan mencapai 98% pada 2029. Dari segi aksesibilitas, pemerintah menetapkan rasio harga layanan jaringan broadband terhadap pendapatan per kapita berada pada tingkat 4% pada 2026.
Pemerintah juga menetapkan agar persentase luas permukiman dan jalur transportasi utama yang masih mengalami kekosongan sinyal 5G tetap berada pada tingkat 4,44%.
Selain itu, selama masa Renstra tersebut, Komdigi berencana membentuk satu kota dengan konsep gigacity pada tahun 2026, serta menambahkan 29 kabupaten/kota yang memiliki status gigacity pada tahun 2027.